Thursday, March 28, 2013

Pepper Lunch. When Fast Food is No Longer Junk Food.


Kamera membidik. Juru masak bergerak cepat *sangat cepat!* menangkupkan nasi ke atas piring lebar. Sebelum sempat saya berpikir, ia sudah meletakkan butter dan mulai menyusun salmon segar di sekeliling nasi. Saya mengatur ulang fokus dan komposisi. Detik berikutnya hidangan sudah jadi dan siap diangkat ke meja tamu.

"Hey.."

Saya hanya bisa melongo memandang satu piring Rice Pepper Salmon sudah terbang menuju ruang makan.

"Berapa detik dibutuhkan untuk menyiapkan satu hidangan ini, pak?" tanya saya separuh putus asa karena masih saja kalah cepat.

"Hmm..," sang juru masak tidak langsung menjawab. Sepertinya ia kesal konsentrasinya saya ganggu dengan pertanyaan.

"Berapa lama?" desak saya tanpa ampun.

"Kira-kira.. 40 detik-an lah."

Bahkan tidak sampai satu menit!



Kembali ke meja, teman-teman foodblogger lainnya sudah banyak yang pesanannya sudah datang dan sekarang tengah mengaduk-aduk nasi bercampur mentega berbumbu merica hitam.

"Menikmati rice pepper di Pepper Lunch ada ritualnya tersendiri," demikian dijelaskan Rika Fardani, Marketing Manager Pepper Lunch Cilandak Town Square di awal acara, ketika kami, para foodblogger yang diundang ke grand opening, baru saja datang dan duduk nyaman di bangku resto berinterior modern-retro ini. Sayangnya saya datang terlambat *guilty*. Sehingga penjelasan detail tentang ritual ini saya peroleh dari brosur lipat yang tersedia di setiap meja.

Setiap hidangan di Pepper Lunch dihidangkan di atas hot plate, sehingga nasi diatasnya harus segera diaduk untuk menghindari hangus dan agar mentega berbumbu yang tersembunyi di sela-sela nasinya bisa tercampur merata melelehi seluruh bulir nasi. Are you hungry now? Ready to dig in? Not yet! Karena ada dua macam saus untuk ditambahkan ke dalam hidangan, baik itu nasi, pasta maupun steak. Saus bawang putih yang asin gurih dan saus madu yang manis. Saya donk pilih dua-duanya *eh*. Satu lagi sentuhan akhir, yaitu taburan lada hitam tambahan untuk spice freak macam saya. Then you're all set, eat!


Jika bicara fast food, biasanya kita bicara junk food. Karena makanan cepat saji umumnya dibuat dari produk olahan siap masak untuk meminimalkan preparation time. Namun teori ini sepertinya mental di Pepper Lunch. Karena bahan baku yang digunakan semua dalam keadaan segar. Daging salmon, sapi dan ayam bahkan mengalami proses pemasakan di meja tamu, ketika ia bertemu dengan batu panas yang berfungsi sebagai piring (hot plate).

But ultimately, it all came down to "was it good"? Hmm.. yang jelas piring saya bersih tak bersisa, mwahaaa..  Ya nasinya, ya salmonnya *apalagi salmonnya!*. Bumbu merica hitamnya nendang, butternya creamy, sausnya enak, salmonnya segar. What's not to like?


Kalau ada sedikit usul dari saya, hanya permintaan supaya ada menu yang menggunakan sayuran sebagai the hero of the dish. Jika demikian, maka sempurnalah resto fast food yang bukan junk food ini menghuni daftar wajib kunjung. But what do I know, I'm just a veggie freak :)




--------------------------------------------------

Pepper Lunch
Cilandak Town Square 2nd floor, unit 117-119

Entree:
Pepper Rice
Beef Pepper Rice, Curry Beef Pepper Rice, Chicken Pepper Rice, Curry Chicken Pepper Rice with Cheese, Wagyu Pepper Rice, Salmon Pepper Rice, Beef and Salmon Pepper Rice, Salmon & Chicken
Steak
Pepper Steak, Big Rib Eye Steak, Loin Steak, Double Hamburg Steak with Egg, Chicken Aglio Olio, Hamburg Steak & BBQ Wagyu, Chicken Steak and BBQ Wagyu, Wagyu Yakiniku with Egg, Teriyaki Pepper Chicken, Teriyaki Double Salmon.
Pasta
Salmon Cream Pasta with Mushroom, Classic Tomato Pasta with Chicken,
Curry Rice
Curry Rice with Sliced Beef, Curry Rice with Double Hamburg Steak, Curry Rice with Chicken and Mushroom

Side Dish:
Miso Soup, Steamed Rice, Mashed Potato, Shake Salad.
Dessert:
Cup Dessert *we had Red Velvet Cake in a cup, delish!* and Ice Cream

Contact:
Eva Kolorosa
Marketing Supervisor
085288586673
eva at boga.co.id

3 comments:

  1. Istimewa sekali ya layanan dan hidangan di Pepper Lunch ini

    ReplyDelete
  2. Mba Riana..mau nanya duunk...rencananya aku pengen beli camera kecil utk food fotography gt (semangat stlh baca buku EMPAT RANA nya) ada saran bl yg merk dan tipe yg mana ya? krn saking byk ny malah puyeng sendiri...bingung mau milih yg mana..blm mau camera yg dslr krn rada berat n besar buatku...budgetnya yg < 5 jt...ada saran mba? *bingung mau hub Mba Riana lewat apa*
    makasih ya Mba..

    desma

    ReplyDelete
    Replies
    1. Canon EOS 1100D atau 1000D kayaknya di bawah 5 juta deh, hihihi.. Oh iyaa, gak mau DSLR ya? Hmmm.. sepertinya bab "Memilih Kamera" di buku FPFE harus dimasukkan ke sini nih :D
      Kalo di bawah 5 juta, beri mirrorless aja gimana? Canon EOS M, atau Olympus seri EPL, Olympus kayaknya ngeluarin mirrorless seri baru tuh, Sony mirrorless seri Alpha. Itu yang aku pernah pake. Denger-denger mirrorlessnya Samsung ok, tapi aku belum pernah coba.
      Semua kamera pasti bagus. Hanya tinggal cocok apa gak karakternya sama kamu. Nah, kamu harus riset tuh dari kamera2 tersebut, kayak apa sample fotonya, kalo perlu test drive ke electronic city atau di pameran elektronik. Oya kalo mirrorlessnya comes with lensa 50mm, ambil lensa 50mm-nya. Cocok buat motret makanan.
      Contoh jepretan Sony SLT-A55V ada di sini.

      Delete